Into Dry Air - Catatan Pendakian ke Puncak Sejati
( A Personal Diary of the G. Raung Reroute Semi Expedition)
Rabu, 25-05-2005
Ditengah ketegangan, kedinginan dan kecemasan, sempat ku kumandangkan adzan, dengan suara lirih menahan dingin, lalu kalimat adzan kukumandangkan di tebing yang persis sebelah kananku hitam legam dalam sekali seakan tak berdasar, Faisal yang persis didepanku sempat mendengar adzan yang kukumandangkan, lalu ia berkata kalau sebelumnya sempat cemas yang tak terhingga dan setelah mendengar adzan mendadak semuanya tenang dan berserah diri..................
Kutancapkan banner segitiga Highcamp di trekking poll, Puji syukur satu persatu rekan-rekan yang lain mulai sampai dipuncak raung, setelah menikmati pemandangan dari puncak terlihat punggungan jalur dari Glenmore, terbesit pertanyaan dihatiku, apakah mungkin kami dipertemukan antara teman-teman yang melewati desa glenmore dengan kami yang dari kalibaru dengan pebedaan medan dan jalur..?...............
Jam 4 sore kami putuskan untuk kembali, satu persatu kami menuruni tebing dengan merangkak, tali masih terpasang di harness masing-masing, aku sendiri bergantian dengan Hanif untuk menjadi be layer, hari semakin sore semakin indah, sayang kameraku tertinggal dipuncak raung, sementara disini pemandangannya begitu manakjubkan, sambil menahan dingin yang begitu menusuk tulang, membuat gigi kami saling bergetar menimbulkan suara yang agak aneh,..cairan dari hidung pun menetes tanpa kami seka sekalipun........
Anggota Tim Pendaki Gunung Raung Reroute Kalibaru Track :
1. Hanif (Pendaki)
2. Ical (Pendaki)
3. Ibeth (Pendaki Cewe)
4. Hasan (Pendaki)
5. Joko (Pendaki Senior)
6. Mas Gimo (Pendaki)
7. Faisal (Pendaki/ teman Joko)
8. Siswo (Pendaki/ teman Joko)
9. Ecoy (Pendaki/ teman Joko)
10. Aron (Pendaki/ teman Joko)
11.Dana (Pendaki/ teman Joko)
12. Yudi (Porter)
13. Basir (Porter)
14. Mardi (Porter)
Rekan-rekan yang expedisi lewat jalur Glenmore:
1. Kapten Wisnoe cumi yang siapa bilang manis
2. Letnan Yadut rascal
3. Kopral Harley bukan Davidson tapi bayu sasta
4. Tonny Pondaag masih saudara sama Pance Pondaag
5. Ustad Ogen Sustagent
6. Daeng yang ternyata masih ABG
6. Pak Untung (Guide)
Dibalik Pesona Gunung Raung
Gunung di Jawa Timur ini termasuk ”12 besar” puncak gunung Indonesia. Ini sebutan khas untuk dua belas puncak gunung dengan ketinggian di atas 3.000 mdpl. Kemegahan Raung bukan saja diukur dari tingkat kesulitan trek, tetapi juga kelebihan tantangannya. Tak semua pendaki mampu mencapai puncak sejati gunung ini. Lewat rute normal, desa Sumber Wringin, para pendaki cuma sampai dibibir kawah, sekitar 3.100 m dpl.
Dari rute normal tersebut, kalau ingin mencapai puncak sejati kita harus melipir bibir kawah. Ini jelas pekerjaan berbahaya, malah kalau boleh dibilang hampir tidak mungkin. Salah sedikit, nyawa taruhannya. Itu sebabnya, sampai sekarang belum ada yang berhasil, Puncak sejati Gunung Raung adalah 3.328 mdpl dan terletak di sisi selatan. Tantangan pertama yang disajikan Raung adalah vegetasi hutan yang sangat lebat dan berduri. Setelah rintangan tersebut diatasi, berikutnya rintangan khas berupa jurang di antara jalur pendakian dengan puncak sejatinya.
Penduduk lokal menamakan jurang tersebut sebagai ”curah malang” yang berarti jurang dalam yang melintang. Dari berbagai cerita, di sinilah semua tim ekspedisi sebelumnya menemui kegagalan, Namun keberadaan ”curah malang” Mungkin, yang dimaksud dengan curah malang adalah dua sungai besar yang beriringan membelah lembah gunung Raung sisi selatan menjadi dua bagian yaitu wilayah Glenmore dan wilayah Kalibaru.
Diperlukan waktu lima hari untuk sampai di batas vegetasi daerah yang sudah tidak ditemukan tumbuh-tumbuhan. Hutan di bawahnya masih sangat lebat dengan aneka satwa yang beragam, sesekali masih dijumpai burung rangkong yang melintas di atas kita, siamang, dan ular-ular berukuran besar. Kawasan ini juga dicurigai sebagai kawasan harimau jawa yang telah dinyatakan punah. Namun beberapa penduduk masih meyakini bahwa harimau jawa masih ada. Jika ditinjau dari lebatnya hutan, memang masih memungkinkan satwa langka seperti harimau jawa hidup. Selain keberadaan satwa di atas, ada suguhan yang utama dari Gunung Raung yaitu kemegahan kawahnya. Kawah Gunung Raung adalah kawah terbesar di Pulau Jawa dengan diameter hampir 2 km dan kedalaman vertikal 500 m, di mana di tengah kawah menjulang setinggi 100 meteran bentukan gunung yang selalu mengeluarkan asap putih belerang.
Gunung Raung termasuk jarang dikenal orang bahkan peminat pendaki. Hal ini disebabkan masih sedikitnya informasi jalur pendakian ke puncak gunung Raung serta rapatnya hutan yang menutupi jalur pendakian.
Menuju puncak sejati Raung kini ada dua rute baru. Yang pertama, jalur Kalibaru. Jalur ini dikategorikan sulit karena setelah melewati batas vegetasi, pendaki dihadapkan pada punggungan tipis yang terjal dan berpasir dengan kemiringan antara 40-70 derajat.
Untuk jalur Kalibaru yang telah dirintis oleh Klub Pecinta Alam Pataga Untag Surabaya tahun 2002 paling sulit dan menantang para avonturir, karena harus melewati puncak Gunung Wates. Pendaki harus menuruni gunung Wates dan masuk lagi satu gunungan kecil pipih menjulang sehingga tercipta jurang yang dalam. Kalau mau melewatinya harus mendaki puncaknya yang tipis ataupun travers di dinding tebing sepanjang 50 m di salah satu dinding pugunungan ini.
Setelah itu pemanjatan semi-scrambling dengan pengaman tali tentunya menyusuri dinding puncakan tertinggi yang mudah rontok dengan travers ke sisi timur untuk melewati dua jurang dalam baru kemudian lurus melakukan pendakian mencapai puncaknya.
Jalur baru yang kedua adalah Glenmore. Ini rute baru yang dirintis Mapala UI pada Mei lalu. Rute ini tidak langsung mendapatkan puncak tertingginya, melainkan harus melewati dulu Puncak Glenmore setinggi 3.277 m yang berada di sisi Timur puncak tertingginya. Jika beruntung—cuaca cerah setelah hujan—kita akan melihat pemandangan yang memukau di sisi barat dua air terjun bertingkat setinggi 100 meteran mengucur memasuki cerukan besar jurangnya hulu Sungai Kajarolo. Sedang di belakang, ada pemandangan sisir pantai selatan Banyuwangi sampai ke selat Bali. Saat malam mulai merambat, tampak gemerlap lampu dua kota yaitu Glenmore dan Kalibaru.
Dalam menyusuri bibir kawah diperlukan usaha ekstra hati-hati karena kanan kita berupa kawah vertikal 500 meter dan kiri berupa lembah dengan kemiringan 40-70 m dan bebatuan berpasir melorot. Walaupun tidak lebih 1 km bila diukur horizontal, dari puncak Glenmore ke puncak sejati dibutuhkan sekitar seharian penuh karena jalannya harus setengah merangkak. Untuk bisa sampai di puncak tertingginya lebih baik bermalam jika sudah mendekati sore, baru besok paginya kita bisa mengejar sunrise dari timur. Anda tidak disarankan tinggal lama di puncak. Biasanya lewat jam 8 pagi kabut terus menyelimuti puncak ini dan Anda tidak mendapatkan pemandangan terbaik.
Alat pemanjatan mutlak diperlukan. Para pendaki gunung jawa timuran sering menyebut gunung Raung sebagai gunung tersulit didaki di Jawa. Di jalur Umum Sumberwringin saja pendaki harus melakukan scrambling dan harus hati-hati tanpa beban. Karakter seputaran Sisi selatan puncak tertinggi Gunung Raung pada dasarnya hampir sama berupa batu dan pasir yang mudah rontok. Maka siapkan peralatan ekstra—seperti tali karmantel minimal 50 m, harnes, figur, pasak yang panjang, dan cangkul kecil atau ice axe. dikutif dari dok. Mapala UI :
And let the story begin.....
Cutiku terbatas mendadak.
Rencanca expedisi yang sudah sangat matang dan siap berangkat akhirnya 2 hari sebelum menjadi sedikit perubahan, sebelumnya team yang akan ikut dalam expedisi jalur glenmore berjumlah 10 orang, 6 orang dari jalur glenmore dan yang lainnya adalah Hanif, Ibeth dan Hasan dan aku, ada beberapa faktor yang membuat terjadinya perbedaan persepsi, dan menurutku ini sangatlah wajar, karena dalam sebuah expedisi sangat perlu menimbang dan memikirkan berbagai hal, salah satunya adalah lama waktu yang akan diperlukan dalam sebuah expedisi, cuti yang kami dapat hanya mendapatkan 2 hari saja, itupun digabungkan dengan harpitnas.
Kemudian masalah itu kian hangat, karena jadwal dan schedule yang kami buat untuk expedisi menjadi sedikit ada perubahan. Akibatnya team ekspedisi terbagi menjadi 2 bagian, 6 orang tetap pada jalur semula yaitu jalur Glenmore, dan 4 orang lagi termasuk aku sendiri akhirnya me reroute jalur kalibaru yang pernah dirintis oleh PTG.
Jum’at pagi, tanggal 22 May 2005 team Glenmore berangkat dari stasiun (jatinegara) setelah beberapa kali berpindah-pindah stasiun kereta karena ketinggala kereta (baca:telat) memang suatu alasan klasik.
Sementara Hanif, Ibeth dan aku dengan persiapan yang cukup segera meluncur ke stasiun gambir sepulang jam kerja.
Dijalur 3 stasiun Gambir rupanya kami bertemu dengan teamnya Joko, Faisal, Ecoy, Siswo, Dana, dan Aron. Mereka rupanya mempunyai rencana yang sama yaitu ke G. Raung, aku sendiri sudah pernah mendaki dengan team Joko dkk, jadi tidak sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dan mengenal karakter dari mereka.
Sore hari jam 6.00, Dengan diantar beberapa teman ( Heru, Fedy, Waku, Nita, Wiwi, Dony, dan Fongky ) kami berangkat, kereta api Gumarang yang perkasa kian cepat membawa kami ke Surabaya ditemani senja yang semakin gelap meninggalkan jakarta.
Suasana didalam dikereta tidak terlalu istimewa, dengan mata lelah dan perut sedikit kosong kucoba memejamkan mata disebuah deretan kursi, mungkin karena perut kosong dan kian ramai hilir mudik para pelayan kereta yang menawarkan aneka makanan, rasa kantuk pun hilang, selanjutkan kami hanya bertukar pengalaman, kongko-kongko hingga malam makin larut, sementara si gumarang masih tetap meluncur kearah belahan timur pulau jawa.
Bersambung........